Saturday, August 14, 2010

Bagaimana Membuang Penundaan dan Rasa Malas

Sukses setiap orang tanpa disadari berawal dari tindakan nyata menuju apa yang diinginkan dalam hidup. Dan problem mengapa lebih banyak orang yang tidak sukses adalah karena mereka tau apa yang ingin dikerjakan, tapi malas untuk mengerjakan. Atau lebih sering disebut rasa malas atau suka menunda.

Nah mengapa seseorang menunda , jika kita tau hal yang akan dikerjakan tersebut akan berguna sekali bagi kita nantinya ? Tung Desem Waringin akan menjelaskan kepada Anda, ada 11 alasan mengapa seseorang menunda pekerjaan yang penting.

Salah satu hal yang membuat kita menunda yaitu terlalu banyak fokus. Kalau kita fokusnya banyak dan kita kerjakan terlalu banyak, sedemikan sehingga luput semakin banyak pekerjaan yang seharusnya dikerjakan dengan baik. Nah untuk mengatasi masalah ini ada 2 caranya

Yang pertama teknik yaitu delegasi, Delegasi seoptimal mungkin yang bisa didelegasikan. Dibandingkan Anda berkutat , berjuang dan berusaha untuk mengerjakan sesuatu hingga mati-matian lebih baik hal tersebut didelegasikan kepada orang yang lebih pandai daripada Anda , atau memiliki waktu lebih banyak daripada Anda untuk berjuang mati-matian dalam mengerjakan hal tersebut

Kemudian yang kedua, nah ini yang jarang dibahas oleh produk time management di pasaran saat ini anda harus punya yang namanya stop doing list , sesuatu yang tidak akan dilakukan lagi. Dimana pada umumnya Anda akan berhenti sesuatu karena sudah kecapaian atau sakit , akan lebih baik jika berhenti dari sekarang, apa-apa saja yang kurang mengarah kepada tujuan akhir Anda.

Anda merasakan manfaat dari artikel pertama ini ? ingin mendapatkan 10 materi berikutnya, kunjungi link berikut ini
Bagaimana membuang rasa malas

Selamat membaca yah,

Standar kehidupan seperti siapa yang Anda inginkan?

Kehidupan seperti apa yang Anda inginkan ? Kaya tapi tidak bahagia, atau hidup berkecukupan dan bahagia , atau hidup sulit yang penting harmonis dan bahagia ? Semua dari pada Anda pembaca pasti ada punya jawaban masing-masing, dan mungkin bisa berbeda dengan apa yang saya tuliskan diatas. Darimana datangnya jawaban tersebut ?

Apapun jawaban Anda , plus minus itulah standar kehidupan Anda. Dan pertanyaan selanjutnya adalah, darimanakah datangnya standar kehidupan tersebut ? Semua bermula dari apa yang Anda dengar , rasakan , dan dilihat semasa hidup Anda. Mungkin datangnya standar hidup tersebut bisa dari orangtua Anda, guru/dosen Anda, teman Anda atau mungkin publik figur atau kisah-kisah orang yang diceritakan kepada Anda.

Nah apa yang terjadi jika, ternyata Anda menggunakan standar hidup orang yang salah , dan terus berlanjut hingga akhir hayat Anda ? YA tepat sekali, plus minus itulah kehidupan Anda jadinya. Anda akan hampir mirip kisah hidupnya. Hal inilah yang ingin ditekankan jangan sampai salah mengambil standar kehidupan yang untuk dicontohkan, tapi belajarlah untuk mengubah visi dan misi hidup Anda berdasarkan orang sukses di sekitar Anda atau dari yang Anda baca dan dengar dari berbagai sumber.

Melalui materi terbarunya Tung Desem Waringin akan memberikan secara lebih jelas, bahwa bagaimana memberi arti apapun yang terjadi dalam hidup ini, sehingga standar hidup Anda bisa menjadi lebih stabil dan terus melangkah maju karena tidak ada pertentangan batin saat melangkah. Kelemahan orang adalah salah memberi arti dalam hidup ini, misalkan Saya dilahirkan di kota kecil dan miskin, walaupun itu orang sukses dilahirkan miskin juga,tapi dia tinggal di kota besar SEHINGGA bisa sukses. Kalau sudah memberikan arti hidup seperti ini, apakah Anda bisa mengikuti standar hidup orang sukses tersebut ?

Materi yang sangat penting untuk merubah 1 - 10 tahun hidup Anda kedepan ini, dirangkum dalam sebuah program pembelajaran "The Standard of Your Life" Bagaimana memiliki standar hidup yang menggairahkan dan membuat Anda melangkah maju menjadi jauh lebih Dahsyat.

Jika Anda merasakan sedikit saja pengetahuan atau manfaat dari artikel ini , Saya ingin mengundang Anda untuk mempelajari pelajaran ini lebih dalam lagi di :
Standar kehidupan yang dahsyat


Selamat membaca yah,


Hurama